Aksi Politis

Hari ini ngobrol dengan seorang teman yang bersiap berangkat untuk membantu sebuah organisasi perdamaian di Australia. Obrolan “nanti kerjaannya ngapain?” menjalur ke pengalaman dia saat menemukan hal-hal kelam di sejarah Indonesia waktu bekerja dengan gerakan perdamaian dari luar negeri. Dengan kata lain, orang dari negara lain justru lebih tahu tentang sejarah negara dia sendiri. Tapi ia bersyukur bisa menemukan sejarah kelam bangsa ini, karena itu sangat menarik. Aku tanya, kenapa itu hal yang menarik? Dia bilang, karena trauma semacam itu perlu dikeluarkan, itu adalah luka yang harus disadari bersama. Makanya ada hal seperti truth and reconciliation committee, atau saat pemerintah meminta maaf akan suatu kejadian dalam sejarah.

Pertanyaanku selanjutnya: itu kan hal-hal yang dilakukan pemerintah. Untuk kita yang warga biasa, apa manfaatnya kita mengeluarkan luka itu, mengingat itu ada efek traumatis nya? Menurut dia, mendengarkan sang korban (atau keluarga korban) saja sudah merupakan suatu langkah. Atau kita bisa mengambil sikap pada mereka sang pelaku yang mungkin dilindungi privilege mereka dari hukum. Kita bisa memutus privilege itu lewat cara2 kecil. Misalnya menusuk nama di kertas dengan paku, lalu mencelupkan jari ke tinta ungu.

Kebetulan hal ini juga ada di pikiran karena aku baru saja kembali dari mengerjakan suatu proyek di Myanmar selama 2 bulan. Nanti aku cerita tentang kerjaannya, tapi yang penting, ternyata Yangon sudah menjadi kota kecil yang menyenangkan. Terakhir kali aku ke sana 5 tahun lalu, kotanya belum senyaman ini. Sampai-sampai aku sedang mempertimbangkan untuk cari kerja full-time di sana.

Tapi, Myanmar kan bukan hanya Yangon ya. Ini adalah sebuah negara yang sedang dalam banyak masalah, yang bahkan melibatkan agamaku sendiri sebagai korbannya. Kalau di Yangon mungkin tidak begitu terasa. Kebetulan kantorku saja lokasinya dekat masjid, jadi kalau siang bisa dengar suara azan, persis seperti di Jakarta. Dan karena itu area yang banyak orang Islam, restoran-restoran di sekitar situ tidak menyajikan daging babi. Di sisi lain, si gadis sopan (yang bahasa Inggrisnya memang terbatas) yang aku temui di acara networking di sebuah incubator pun, setelah menjelaskan tentang bisnisnya dan ngobrol singkat, bisa berkomentar “But you are free, you don’t wear hijab like them.” Aku mau berkomentar, seperti halnya orang dari negara lain yang mengajarkan temanku tentang sejarah negaranya sendiri. Tapi aku tidak bisa.

Jadi, apakah seharusnya aku tidak mendekati negara semacam itu? Apa peranku sebagai manusia biasa? Ingat bahwa Jack Dorsey yang twit saat berkunjung untuk meditasi ke Myanmar pun diprotes. Padahal ia ke sana dengan alasan pribadi, bukan untuk keperluan Twitter. Saat tindakan setiap individu bisa dilihat sebagai sikap politis, itu ada baik buruknya. Bagusnya, kita jadi terdorong untuk kritis saat memilih caleg, memotong kesempatan bagi eks koruptor, kita kawal pemilu lebih ketat. Nggak bagusnya, hal yang kita lakukan “tidak untuk kepentingan umum” (misalnya mencari kerja) bisa diartikan sebagai sikap politis. Dengan aku pergi ke Myanmar, apakah itu berarti aku mendukung pelanggaran HAM terhadap kaum Rohingya? Dengan aku menyukai hidup di Yangon? Dengan aku berpikir untuk bekerja di situ?

Dan ini bukan pertanyaan retoris, aku benar-benar bertanya nih. Bagaimana harusnya cara berpikir nya?

Leave a comment